Cara Penanganan Panen Dan Pasca
Panen Hasil Budidaya Buah Jeruk
Oleh: Rahmah Indrayati, SP
Penyuluh Pangan
Dinas Ketahanan Pangan
Kabupaten Indragiri Hulu
Buah
jeruk memiliki nilai ekonomis sekaligus kandungan gizi cukup tinggi, yang dapat
dikonsumsi dalam bentuk segar maupun olahan. Di Indonesia, jeruk termasuk
tanaman rakyat dengan mayoritas pengusahaan yang dilakukan di lahan kering,
baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Permintaan buah jeruk dari tahun
ke tahun semakin meningkat akibat dari peningkatan jumlah penduduk, pendapatan,
dan kesadaran masyarakat akan nilai gizi, serta semakin lajunya perkembangan
sektor pariwisata.
Penanganan
pascapanen buah jeruk yang tidak tepat dapat mengakibatkan kehilangan hasil
yang tinggi, penyebab utamanya bisa karena cara panen yang tidak tepat,
tampilan fisik yang kurang menarik karena adanya bintik cokelat atau hitam pada
permukaan kulit buah, atau warna kulit buah yang tidak seragam, ukuran dan
tingkat ketuaan yang tidak seragam, teknik pengemasan dan pengangkutan yang
tidak tepat, serta sanitasi peralatan dan perlengkapan yang kurang tepat. Untuk
itu, berikut Portal Agri telah merangkum informasi cara berupa tahapan-tahapan
penanganan panen dan pasca panen buah jeruk yang tepat.
1.
Pemanenan
Buah
jeruk yang layak panen adalah buah yang tidak terlalu muda ataupun terlalu tua.
Secara umum, buah jeruk yang sudah dapat dipanen memiliki ciri kulit buah yang
kekuning-kuningan, buah tidak terlalu keras jika disentuh, bagian bawah buah
agak empuk, dan bila dijentik dengan jari maka bunyinya tidak lagi
nyaring.
Waktu
pemetikan buah hendaknya dilakukan pada saat matahari sedang bersinar terang,
sekitar jam 9 pagi sampai sore, agar tidak menyisakan embun dan buah jeruk
tidak dalam keadaan basah. Jika ingin mendapatkan mutu buah yang baik,
disarankan untuk memanen buah dengan gunting pangkas. Potong gagang buah
sependek mungkin tanpa melukai buahnya sendiri. Gagang yang melekat pada buah
dapat menjadi sumber kerusakan mekanik selama pengemasan dan pengangkutan.
Untuk cabang yang tinggi, gunakanlah alat bantu berupa tangga.
2.
Pencucian dan Pembersihan
Setelah
panen, segeralah cuci buah jeruk dengan cairan klorin untuk menghilangkan
kontaminasi residu fungisida yang disemprotkan, spora jamur, dan tanah atau
kotoran. Gunakan klorin bebas (HOCI) 100 - 150 ppn pada pH air resirkulasi 6,5
- 7,5. Bentuk utama klorin yang dapat digunakan adalah natrium hipoklorit
(NaOCl), kalsium hipoklorit (Ca(OCl)2), dan gas klorin (CI2).
Natrium hipoklorit sering dijual sebagai larutan 12 - 15%.
3.
Sortasi dan Pengkelasan
Sortasi
atau pemisahan buah yang cacat dan buah yang baik dapat dilakukan secara manual
dengan tangan atau dengan peralatan sortasi elektronik. Di awal jalur
pengemasan, peralatan sortasi elektronik perlu digunakan untuk memisahkan buah
yang tidak layak kemas dari perlakuan fungisida dan pelapisan lilin, gunanya
juga untuk mengurangi ukuran dan biaya dari penggunaan mesin pengemas.
Penggunaan alat sortasi elektronik tetap memerlukan sortasi secara manual,
karena beberapa jenis cacat seperti pengerutan akan sulit dikelaskan secara
elektronik.
Pengkelasan
dapat berdasarkan dengan standar yang ditentukan oleh pemerintah, seperti SNI
01-3168-1992, ataupun Standar Prosedur Operasional (SOP) berbagai jenis jeruk
yang dikeluarkan oleh Dirjen Bina Produksi Hortikultura setempat.
4.
Pelapisan Lilin (Waxing)
Pelapisan
lilin pada buah jeruk bertujuan membuat kulit buah tampak bersinar dan mampu
bertahan selama proses pemasaran, serta mengurangi susut bobot buah yang
mungkin terjadi selama penyimpanan. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan
pembusaan, penyemprotan, pencelupan, atau pengolesan.
Pastinya, lilin yang
diformulasikan harus masuk dalam bahan tambahan pangan yang aman dikonsumsi. Adapun
beberapa jenis bahan lilin yang biasa digunakan dalam pelapisan lilin
yaitu Carnauba,
Shellac, Polyethylen, dan Resin. Masing-masing dari
jenis tersebut memiliki keunggulannya tersendiri. Namun, spesifikasi yang dapat
dijadikan sebagai acuan dalam memilih lilin diantaranya sinar mampu bertahan
lama, tidak mudah memutih atau menjadi seperti kapur, dapat mengurangi susut
berat, tidak menyebabkan perubahan rasa, cepat kering, mudah dibersihkan, dibentuk
dari bahan yang aman dikonsumsi, dan
harga yang kompetitif
5.
Penguningan (Degreening)
Penguningan
yang dimaksud adalah proses perombakan pigmen hijau (klorofil) pada kulit jeruk
secara kimiawi, sekaligus membentuk warna kuning jingga (karotenoid) pada kulit
jeruk. Proses ini tidak akan berpengaruh terhadap bagian dalam jeruk. Biasanya,
penguningan dibantu oleh zat perangsang metabolik berupa gas alifatis tidak
jenuh yang disebut etilen. Tetapi etilen sulit didapat, sebagai gantinya
gunakan asetilen (karbit) dan ethrel (asam 2 kloroetil fosfonat).
Cara
penguningan dengan etilen menggunakan tiga mode, yaitu the shot method, tricle
degreening, dan tents or room. Prinsipnya sama, yaitu gas etilen dengan dosis
tertentu dimasukkan ke dalam suatu ruangan yang tertutup rapat atau
bersirkulasi berisi jeruk yang mau dikuningkan, dengan mengatur suhu dan
kelembaban optimum agar proses penguningan dapat berjalan lancar.
Prinsip
proses penguningan jeruk dengan asetilen sama dengan etilen, karena bentuknya
pun sama yaitu gas. Hasil penguningan terbaik diperoleh dari penggunaan 2000
ppm asetilen ke jeruk valensia selama 11 jam pemeraman, pada kondisi ruangan
bersuhu 29 - 32°C, kelembaban relatif 80 - 90% selama 7,4 hari.
Sementara
proses penguningan dengan ethrel sangat sederhana, diawali dengan membersihkan
buah jeruk menggunakan kain lap basah, anginkan buah jeruk, lalu celupkan dalam
larutan ethrel dengan konsentrasi dan dalam waktu tertentu. Penggunaan 1000 ppm
ethrel 40 PGR (dengan waktu pencelupan 30 detik) merupakan dosis optimal yang
efektif merubah warna kulit buah jeruk.
6.
Penyimpanan
Semua
varietas jeruk relatif bebas dari induksi cacat kulit apabila disimpan pada
suhu diatas 12°C. Buah yang disimpan pada suhu lebih rendah sebaiknya
dipasarkan lebih cepat sebelum berkembangnya cacat kulit. Dalam tahapan
penyimpanan buah jeruk yang baik, lakukanlah pendinginan awal (pre
cooling) di
bawah suhu 10°C untuk memastikan jeruk cukup dingin sebelum dimasukkan ke dalam
kontainer pendinginan.
Agar
daya dan umur simpan buah jeruk lebih lama, bungkus buah jeruk dengan plastik,
tetapi sebelumnya buah jeruk harus diberi perlakuan fungisida sehingga jamur
tidak berkembang.
7.
Pengemasan dan Pengangkutan
Pengangkutan
buah jeruk biasanya dengan dikemas ke dalam kayu (wood
pallet boxes) dengan
alas berupa kertas atau daun-daunan. Jeruk umumnya diangkut dengan berbagai
macam mode transportasi, dengan jarak dan waktu yang beragam. Selama dalam
perjalanan tersebut, ternyata dapat mempengaruhi kualitas jeruk karena buah
terus mengalami goncangan, terlebih jika alas atau ganjalan tidak efektif
menahan goncangan tersebut. Untuk mengatasi permasalahan itu, gunakan alas atau
ganjalan hasil dari kombinasi kertas sampul dengan daun Gliricidia. Manfaatnya,
bahan alas tersebut dapat membantu menekan susut berat tertinggi selama
pengangkutan dengan alat angkut dan jarak yang sama, yaitu sebesar 6,87% untuk
kapasitas wadah 22 - 25 kg, dan 2,52% untuk wadah kapasitas 16 kg.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar