Selasa, 31 Oktober 2023

 

Cara Penanganan Panen Dan Pasca Panen Hasil Budidaya Buah Jeruk

Oleh: Rahmah Indrayati, SP

Penyuluh Pangan

 

Dinas Ketahanan Pangan

Kabupaten Indragiri Hulu

 

Buah jeruk memiliki nilai ekonomis sekaligus kandungan gizi cukup tinggi, yang dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun olahan. Di Indonesia, jeruk termasuk tanaman rakyat dengan mayoritas pengusahaan yang dilakukan di lahan kering, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Permintaan buah jeruk dari tahun ke tahun semakin meningkat akibat dari peningkatan jumlah penduduk, pendapatan, dan kesadaran masyarakat akan nilai gizi, serta semakin lajunya perkembangan sektor pariwisata. 

Penanganan pascapanen buah jeruk yang tidak tepat dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi, penyebab utamanya bisa karena cara panen yang tidak tepat, tampilan fisik yang kurang menarik karena adanya bintik cokelat atau hitam pada permukaan kulit buah, atau warna kulit buah yang tidak seragam, ukuran dan tingkat ketuaan yang tidak seragam, teknik pengemasan dan pengangkutan yang tidak tepat, serta sanitasi peralatan dan perlengkapan yang kurang tepat. Untuk itu, berikut Portal Agri telah merangkum informasi cara berupa tahapan-tahapan penanganan panen dan pasca panen buah jeruk yang tepat. 

1. Pemanenan

Buah jeruk yang layak panen adalah buah yang tidak terlalu muda ataupun terlalu tua. Secara umum, buah jeruk yang sudah dapat dipanen memiliki ciri kulit buah yang kekuning-kuningan, buah tidak terlalu keras jika disentuh, bagian bawah buah agak empuk, dan bila dijentik dengan jari maka bunyinya tidak lagi nyaring. 

Waktu pemetikan buah hendaknya dilakukan pada saat matahari sedang bersinar terang, sekitar jam 9 pagi sampai sore, agar tidak menyisakan embun dan buah jeruk tidak dalam keadaan basah. Jika ingin mendapatkan mutu buah yang baik, disarankan untuk memanen buah dengan gunting pangkas. Potong gagang buah sependek mungkin tanpa melukai buahnya sendiri. Gagang yang melekat pada buah dapat menjadi sumber kerusakan mekanik selama pengemasan dan pengangkutan. Untuk cabang yang tinggi, gunakanlah alat bantu berupa tangga. 

2. Pencucian dan Pembersihan

Setelah panen, segeralah cuci buah jeruk dengan cairan klorin untuk menghilangkan kontaminasi residu fungisida yang disemprotkan, spora jamur, dan tanah atau kotoran. Gunakan klorin bebas (HOCI) 100 - 150 ppn pada pH air resirkulasi 6,5 - 7,5. Bentuk utama klorin yang dapat digunakan adalah natrium hipoklorit (NaOCl), kalsium hipoklorit (Ca(OCl)2), dan gas klorin (CI2). Natrium hipoklorit sering dijual sebagai larutan 12 - 15%. 

3. Sortasi dan Pengkelasan

Sortasi atau pemisahan buah yang cacat dan buah yang baik dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau dengan peralatan sortasi elektronik. Di awal jalur pengemasan, peralatan sortasi elektronik perlu digunakan untuk memisahkan buah yang tidak layak kemas dari perlakuan fungisida dan pelapisan lilin, gunanya juga untuk mengurangi ukuran dan biaya dari penggunaan mesin pengemas. Penggunaan alat sortasi elektronik tetap memerlukan sortasi secara manual, karena beberapa jenis cacat seperti pengerutan akan sulit dikelaskan secara elektronik. 

Pengkelasan dapat berdasarkan dengan standar yang ditentukan oleh pemerintah, seperti SNI 01-3168-1992, ataupun Standar Prosedur Operasional (SOP) berbagai jenis jeruk yang dikeluarkan oleh Dirjen Bina Produksi Hortikultura setempat. 

4. Pelapisan Lilin (Waxing)

Pelapisan lilin pada buah jeruk bertujuan membuat kulit buah tampak bersinar dan mampu bertahan selama proses pemasaran, serta mengurangi susut bobot buah yang mungkin terjadi selama penyimpanan. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan pembusaan, penyemprotan, pencelupan, atau pengolesan. 

Pastinya, lilin yang diformulasikan harus masuk dalam bahan tambahan pangan yang aman dikonsumsi. Adapun beberapa jenis bahan lilin yang biasa digunakan dalam pelapisan lilin yaitu Carnauba, Shellac, Polyethylen, dan Resin. Masing-masing dari jenis tersebut memiliki keunggulannya tersendiri. Namun, spesifikasi yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam memilih lilin diantaranya sinar mampu bertahan lama, tidak mudah memutih atau menjadi seperti kapur, dapat mengurangi susut berat, tidak menyebabkan perubahan rasa, cepat kering, mudah dibersihkan, dibentuk dari bahan yang aman dikonsumsi, dan harga yang kompetitif

5. Penguningan (Degreening)

Penguningan yang dimaksud adalah proses perombakan pigmen hijau (klorofil) pada kulit jeruk secara kimiawi, sekaligus membentuk warna kuning jingga (karotenoid) pada kulit jeruk. Proses ini tidak akan berpengaruh terhadap bagian dalam jeruk. Biasanya, penguningan dibantu oleh zat perangsang metabolik berupa gas alifatis tidak jenuh yang disebut etilen. Tetapi etilen sulit didapat, sebagai gantinya gunakan asetilen (karbit) dan ethrel (asam 2 kloroetil fosfonat).

Cara penguningan dengan etilen menggunakan tiga mode, yaitu the shot method, tricle degreening, dan tents or room. Prinsipnya sama, yaitu gas etilen dengan dosis tertentu dimasukkan ke dalam suatu ruangan yang tertutup rapat atau bersirkulasi berisi jeruk yang mau dikuningkan, dengan mengatur suhu dan kelembaban optimum agar proses penguningan dapat berjalan lancar. 

Prinsip proses penguningan jeruk dengan asetilen sama dengan etilen, karena bentuknya pun sama yaitu gas. Hasil penguningan terbaik diperoleh dari penggunaan 2000 ppm asetilen ke jeruk valensia selama 11 jam pemeraman, pada kondisi ruangan bersuhu 29 - 32°C, kelembaban relatif 80 - 90% selama 7,4 hari. 

Sementara proses penguningan dengan ethrel sangat sederhana, diawali dengan membersihkan buah jeruk menggunakan kain lap basah, anginkan buah jeruk, lalu celupkan dalam larutan ethrel dengan konsentrasi dan dalam waktu tertentu. Penggunaan 1000 ppm ethrel 40 PGR (dengan waktu pencelupan 30 detik) merupakan dosis optimal yang efektif merubah warna kulit buah jeruk. 

6. Penyimpanan

Semua varietas jeruk relatif bebas dari induksi cacat kulit apabila disimpan pada suhu diatas 12°C. Buah yang disimpan pada suhu lebih rendah sebaiknya dipasarkan lebih cepat sebelum berkembangnya cacat kulit. Dalam tahapan penyimpanan buah jeruk yang baik, lakukanlah pendinginan awal (pre cooling) di bawah suhu 10°C untuk memastikan jeruk cukup dingin sebelum dimasukkan ke dalam kontainer pendinginan. 

Agar daya dan umur simpan buah jeruk lebih lama, bungkus buah jeruk dengan plastik, tetapi sebelumnya buah jeruk harus diberi perlakuan fungisida sehingga jamur tidak berkembang.

7. Pengemasan dan Pengangkutan

Pengangkutan buah jeruk biasanya dengan dikemas ke dalam kayu (wood pallet boxes) dengan alas berupa kertas atau daun-daunan. Jeruk umumnya diangkut dengan berbagai macam mode transportasi, dengan jarak dan waktu yang beragam. Selama dalam perjalanan tersebut, ternyata dapat mempengaruhi kualitas jeruk karena buah terus mengalami goncangan, terlebih jika alas atau ganjalan tidak efektif menahan goncangan tersebut. Untuk mengatasi permasalahan itu, gunakan alas atau ganjalan hasil dari kombinasi kertas sampul dengan daun Gliricidia. Manfaatnya, bahan alas tersebut dapat membantu menekan susut berat tertinggi selama pengangkutan dengan alat angkut dan jarak yang sama, yaitu sebesar 6,87% untuk kapasitas wadah 22 - 25 kg, dan 2,52% untuk wadah kapasitas 16 kg. 

Sumber:  https://portalagri.com/tips/96/395/cara-penanganan-panen-dan-pasca-panen-hasil-budidaya-buah-jerukhttps://www.scribd.com/doc/307167261/Penanganan-Pasca-Panen-jerukhttps://pertanian.jogjakota.go.id/detail/index/15067#:~:text=Pestisida%20nabati%20merupakan%20senyawa%20kimia,maupun%20tumbuhan%20pengganggu%20(gulma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERTANAM SAYAURAN UNTUK KEAMANAN DAN KETAHANAN PANGAN

  BERTANAM SAYAURAN UNTUK KEAMANAN DAN KETAHANAN PANGAN   Oleh: Rahmah Indrayati, SP Penyuluh Pangan   Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Indr...