Kamis, 31 Agustus 2023

 

Pengawet Makanan Alami, Sehat dan Aman Dikonsumsi

 

Oleh: Rahmah Indrayati, SP

Penyuluh Pangan

 

Dinas Ketahanan Pangan

Kabupaten Indragiri Hulu

 

 

Makanan yang Kita konsumsi setiap hari merupakan bahan makanan yang sifatnya mudah rusak, sehingga makanan yang terlalu lama disimpan akan basi. Kondisi ini akan menjadikannya sudah tidak layak untuk dikonsumsi dan apabila dipaksakan akan menimbulkan gangguan pencernaan dan kesehatan tubuh lainnya. Semua bahan makanan baik yang mentah dan belum mengalami proses memasak hingga yang sudah dimasak dan siap santap cenderung mudah untuk rusak sehingga kemudian muncul ide untuk menjadikan makanan lebih tahan lama. 

Pengawet makanan merupakan salah satu zat aditif atau bahan tambahan pangan yang bermanfaat untuk mencegah makanan tidak cepat busuk.

Selain pengawet makanan buatan yang umumnya terdapat dalam makanan kemasan, terdapat pengawet makanan alami yang lebih sehat.

Bahan pengawet makanan alami akan membantu mencegah pembusukan makanan akibat mikroba, seperti jamur, ragi, dan bakteri.

 

 

 

1.       Garam. Selain menambah cita rasa makanan, garam bermanfaat untuk mengawetkan makanan, seperti asinan, ikan asin, atau telur asin.

Sebagai pengawet makanan alami, garam menghambat pertumbuhan mikroba dengan cara menarik molekul air di dalam makanan. Proses ini juga dikenal sebagai osmosis

 

2.       Gula. Sama seperti garam, gula juga memiliki sifat osmosis yang bisa mengurangi kadar air dalam makanan. Hal ini membatasi pertumbuhan mikroba dan menjaga kesegaran makanan.

Namun, gula umumnya hanya bekerja efektif untuk mengawetkan makanan dalam kondisi kedap air, seperti dalam toples tertutup

 

3.       Cuka merupakan produk hasil dari fermentasi gula, salah satunya adalah cuka apel yang berasal dari olahan sari buah apel

4.       Bawang putih memiliki sejumlah keunggulan, termasuk kandungan senyawa antimikroba yang membantu melawan pertumbuhan bakteri pada makanan

5.        Cabai biasa dan cabai rawit tentu menghasilkan sensasi pedas saat Anda konsumsi. Makanan pedas diketahui dapat melawan bakteri dan membuat makanan segar lebih lama.

Sifat antibakteri dari cabai ini terbukti efektif untuk menekan pertumbuhan bakteri, seperti Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, dan Salmonella typhimurium.

 

6.       Buah lemon memiliki kandungan asam sitrat yang berfungsi sebagai pengawet makanan alami. 

Kandungan asam organik ini umumnya memiliki tingkat keasaman (pH) antara 3 hingga 6 yang tergolong aman untuk Anda konsumsi.

Menambahkan asam sitrat ke dalam makanan dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang memicu proses pembusukan.

7.       Selain sebagai penyedap untuk daging steik, kandungan antioksidan dalam rosemary memiliki manfaat dalam mengawetkan makanan.

Dua kandungan dalam ekstrak rosemary, yakni asam rosmarinic dan asam carnosic, diketahui dapat menghambat oksidasi lemak dan minyak yang menimbulkan bau busuk.

Maka dari itu, Anda bisa menambahkan taburan rosemary saat mempersiapkan daging atau makanan lain untuk memperpanjang umur simpannya

 

 

Sumber:  https://tanamanpangan.pertanian.go.id/detil-konten/iptek/16

suksesjayamlg.com/dnews/2/tips-mengawetkan-bahan-makanan-secara-alami.html

https://pertanian.jogjakota.go.id/detail/index/15067#:~:text=Pestisida%20nabati%20merupakan%20senyawa%20kimia,maupun%20tumbuhan%20pengganggu%20(gulma).

 

PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM PERSPEKTIF PRODUKSI DAN KEAMANAN PANGAN

Oleh: Rahmah Indrayati, SP

Penyuluh Pangan

 

Dinas Ketahanan Pangan

Kabupaten Indragiri Hulu

 

 

Hama dan penyakit merupakan OPT (Organisme  Pengganggu Tumbuhan)  yang menyebabkan kerusakan dan kerugian (pertumbuhan tanaman terganggu, hasil produksi menurun, hingga gagal panen). Banyak jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman yang kita usahakan, al. ulat, belalang, kumbang, lalat, kutu, kepik (hama) dan bakteri, cendawan/jamur, virus (penyakit)

 

Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan fotoperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga (Wiyono, 2007). Berbagai fakta menunjukkan bahwa El-Nino dan La-Nina dapat menstimulasi perkembangan hama dan penyakit tanaman, seperti penggerek batang dan wereng coklat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, belalang di Lampung pada MH 1998 dan penyakit tungro di Jawa Tengah, NTB, dan Sulawesi Selatan. Terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Waktu tanam yang tidak serempak dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi pemicu serangan OPT.

 

Merebaknya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan, seringkali menyebabkan petani melakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia. 

Pestisida kimia banyak digunakan karena mempunyai kelebihan dapat diaplikasikan dengan mudah dan hasilnya dapat dirasakan dalam waktu yang relatif singkat serta dapat diaplikasikan dalam areal yang luas. Namun dalam penggunaannya, petani seringkali masih menyalahi aturan dengan menggunakan pestisida kimia dalam dosis yang masih melebihi takaran dan bahkan mencampur beberapa jenis pestisida kimia dengan alasan untuk meningkatkan daya racun pada hama dan penyakit tanaman. Sehingga, dosis yang digunakan pun seolah tidak diperdulikan lagi dengan asumsi agar OPT bisa dikendalikan.

 Akibat penggunaan pestisida yang tidak tepat atau berlebihan dapat mengakibatkan keracunan bahkan kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 25 juta kasus keracunan pestisida kimia atau sekitar 68.493 kasus setiap hari. Menurut Suparti, dkk, pestisida adalah racun yang sangat berbahaya bagi manusia sehingga faktor keamanan pemakaian pestisida perlu mendapat prioritas. Idealnya pestisida kimia dapat membunuh serangga pembawa penyakit dan hama pada tanaman, tetapi tidak beracun bagi manusia dan makhluk hidup lainnya yang bukan merupakan target. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian, pestisida merupakan bahan yang beracun sehingga sangat berbahaya apabila tidak dikelola dengan baik dan benar terutama bagi petani yang dalam kegiatannya langsung berhubungan dengan pestisida kimia.

Dalam konsep pengendalian hama terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama namun lebih dititikberatkan untuk mengendalikan hama sehingga berada di bawah ambang kendali. Berikut cara menggunakan pestisida yang baik dan benar. Cara menggunakan pestisida yang baik agar tidak terjadi resistensi OPT terhadap pestisida  adalah:

1.      Tepat jenis dan mutu

2.      Menggunakan pestisida yang terdaftar/diijinkan

3.      Efektif terhadap jasad sasaran, daya racun rendah, mudah terurai, selektif

4.      Wadahnya asli dan masih baik, dengan memperhatikan label yang lengkap

5.      Masih berlaku/tidak kadaluarsa

6.      Pestisida kontak/racun kontak (lambung) tidak sesuai untuk hama yang berada dalam jaringan tanaman. Untuk hama yang berada dalam jaringan tanaman (penggerek batang padi dapat dikendalikan secara efektif menggunakan jenis insektisida sistemik).

7.      Tepat waktu, ditentukan dengan memperhatikan:

Ambang pengendalian yang berlaku. Menunda waktu aplikasi pestisida, sehingga apabila populasi hama sangat tinggi akan kurang efektif, mahal, dan memicu kekebalan hama terhadap pestisida. Musuh alami banyak yang mati, sehingga setelah residu pestisida habis, larva yang baru menetas menjadi berkembang cepat tanpa musuh alami.

1.      Stadia pertumbuhan tanaman yang diaplikasi

2.      Keadaan cuaca yang memungkinkan. Tidak melakukan aplikasi pestisida pada saat banyak embun masih menempel di tanaman (terlalu pagi, matahari belum terbit). Embun yang menempel di daun akan mengencerkan konsentrasi pestisida yang diaplikasikan sehingga menjadi tidak efektif dan menimbulkan kekebalan hama sasaran terhadap pestisida yang diaplikasikan.

3.      Waktu yang tepat untuk mengaplikasikan pestisida adalah ketika hama berada pada stadium rentan. Larva ulat grayak diaplikasi pestisida ketika masih berada dalam stadium /instar 1-2 

3.      Tepat dosis:

Jasad pengganggu tanaman dapat dikendalikan secara baik dengan pestisida pada dosis (konsentrasi dan jumlah volume cairan semprot) yang dianjurkan sesuai alat aplikasi yang akan digunakan. Konsentrasi pestisida dinyatakan dalam volume formulasi pestisida di dalam satu liter air. Tepat dosis, konsentrasi yang tepat sangat berhubungan dengan dosis aplikasinya. Dosis aplikasi dinyatakan dengan banyaknya bahan aktif pestisida yang digunakan pada areal seluas satuan tertentu atau banyaknya cairan semprot per satuan luas tertentu. Dosis yang kurang akan menyebabkan hama yang diaplikasi tidak mati, bahkan akan menjadi kebal karena kemampuannya beradaptasi terhadap pestisida yang kurang efektif tersebut.

4.      Tepat cara, hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:

5.      Menggunakan aplikasi yang tepat sesuai bentuk dan jenis formulasi

6.      Memperhatikan keberadaan/tempat jasad sasaran yang dituju

7.      Cuaca terutama arah angin, agar keselamatan operator terjamin maka penyemprotan harus dilakukan tidak berlawanan dengan arah angin.

8.      Penggunaan pestisida harus tepat sasaran agar aman penggunaannya

9.      Keefektifan pestisida terhadap jenis hama yang akan diaplikasi

  1. Gunakan pestisida yang sesuai dengan hama sasaran. Tidak semua pestisida efektif untuk semua

Sumber:  https://tanamanpangan.pertanian.go.id/detil-konten/iptek/16

https://pertanian.jogjakota.go.id/detail/index/15067#:~:text=Pestisida%20nabati%20merupakan%20senyawa%20kimia,maupun%20tumbuhan%20pengganggu%20(gulma).

BERTANAM SAYAURAN UNTUK KEAMANAN DAN KETAHANAN PANGAN

  BERTANAM SAYAURAN UNTUK KEAMANAN DAN KETAHANAN PANGAN   Oleh: Rahmah Indrayati, SP Penyuluh Pangan   Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Indr...