UJI FORMALIN UNTUK KEAMANAN PANGAN
Oleh: Rahmah Indrayati, SP
Penyuluh Pangan
Dinas Ketahanan Pangan
Kabupaten Indragiri Hulu
Buah dan Sayur (Pangan Segar Asal Tumbuhan) merupakan komoditas pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik dalam keadaan segar maupun olahan. Penggunaan pestisida merupakan alternatif dalam mengandalikan cemaran hama dan penyakit pada tanaman buah dan sayur. Pestisida merupakan semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah atau menangkis gangguan serangga, binatang pengerat, nematode, gulma, virus, bakteri, serta jasad renik yang dianggap hama. Penggunaan pestisida yang tidak tepat waktu, interval waktu aplikasi yang pendek dan terlalu dekat waktu panen akan menyebabkan tertinggalnya residu pestisida pada bahan makanan yang dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi bahan makanan tersebut.
Bahan pangan asal ternak (Pangan Segar Asal Hewan) merupakan sumber gizi untuk pertumbuhan dan kehidupan manusia, tetapi dapat berbahaya bagi kesehatan manusia apabila produk tersebut tidak layak dikonsumsi. Ikan merupakan sumber protein yang murah dibandingkan dengan daging dan mengandung komposisi nutrisi yang lengkap termasuk asam amino esensial yang tidak dapat dihasilkan di dalam tubuh.
Bahan makanan khususnya yang berasal dari hewan mempunyai sifat mudah rusak. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh adanya perubahan yang terjadi, baik di dalam bahan itu sendiri maupun adanya kerusakan dan pencemaran dari luar. Agar manfaat bahan makanan ini bisa berkelanjutan bagi kehidupan manusia dan terjangkau daya beli masyarakat, maka diperlukan langkah-langkah pengamanan terhadap bahan makanan dimaksud sehingga menghasilkan bahan makanan yang sehat, aman, utuh dan halal serta dapat diterima oleh konsumen sesuai seleranya.
Dewasa ini penggunaan formalin sebagai pengawet pada ikan sering dijumpai di masyarakat. Penggunaan Formaldehida (FA) sebagai pengawet banyak ditemukan pada bahan makanan dengan tujuan untuk menjaga kesegaran makanan, dan waktu penyimpanan yang lama. Asupan FA yang berlebihan akan menyebabkan gangguan pada sistem syaraf, sistem pernapasan dan gangguan pencernaan. Jenis pengawet yang sedang ramai dibicarakan di kalangan masyarakat yaitu penggunaan formalin sebagai pengawet bahan makanan. Penggunaan bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan ikan seperti formalin, boraks, zat pewarna, antiseptik,antibiotik semakin marak karena peredaran bahan kimia berbahaya tidak terkontrol dengan baik,diperoleh dengan harga murah dan mudah didapat.
Keamanan pangan menjadi hal yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini akibat sering ditemukannya bahan berbahaya pada makanan ketika diadakan operasi pengawasan pangan di sejumlah pasar di Indonesia. Bahan berbahaya yang sering ditambahkan dalam makanan salah satunya adalah formalin. Formalin dilarang ditambahkan pada makanan sesuai dengan peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat untuk memberikan informasi tentang apa itu formalin, kegunaan, bahayanya bagi kesehatan jika ditambahkan pada makanan serta cara mengidentifikasi kandungan formalin pada makanan dengan pengujian organoleptik dan kualitatif. Identifikasi kandungan formalin pada makanan dapat dilakukan secara dini dengan mengetahui ciri-ciri organoleptiknya. Pengujian organoleptik ini meliputi uji rasa, warna, aroma, bentuk dan tekstur dengan memanfaatkan indera manusia dalam mengidentifikasi karakteristik sensor suatu produk makanan. Setelah secara ciri-ciri organoleptik menunjukkan kemungkinan sampel makanan tersebut mengandung formalin, analisis dapat dilanjutkan dengan melakukan pengujian kualitatif, untuk memastikan ada tidaknya kandungan formalin dalam makanan. Uji kualitatif ini dapat menggunakan larutan salah satunya adalah KMnO4. KMnO4 dapat mengoksidasi aldehid menjadi asam karboksilat. Jika dalam makanan tersebut terdapat formalin, maka formalin yang nama lainnya adalah metanal akan dioksidasi menjadi asam metanoat oleh KMnO4. Hal ini mennyebabkan KMnO4 yang awalnya berwarna ungu berubah warna menjadi coklat hingga bening.
https://distanpangan.magelangkab.go.id/home/detail/pengujian-residu-pestisida-dan-formalin-secara-kualitatif-pada-pangan-segar-di-pasar-tradisional-dan-pasar-modern-di-kabupaten-magelang/362