PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM
PERSPEKTIF PRODUKSI DAN KEAMANAN PANGAN
Oleh: Rahmah Indrayati, SP
Penyuluh Pangan
Dinas Ketahanan Pangan
Kabupaten Indragiri Hulu
Hama dan penyakit merupakan
OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) yang menyebabkan kerusakan dan
kerugian (pertumbuhan tanaman terganggu, hasil produksi menurun,
hingga gagal panen). Banyak jenis hama dan penyakit
yang menyerang tanaman yang kita usahakan, al. ulat, belalang, kumbang, lalat,
kutu, kepik (hama) dan bakteri, cendawan/jamur,
virus (penyakit)
Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik
langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan
fotoperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta
kemampuan diapause serangga (Wiyono, 2007). Berbagai fakta menunjukkan bahwa
El-Nino dan La-Nina dapat menstimulasi perkembangan hama dan penyakit tanaman,
seperti penggerek batang dan wereng coklat di Jawa Barat dan Jawa Tengah,
belalang di Lampung pada MH 1998 dan penyakit tungro di Jawa Tengah, NTB, dan
Sulawesi Selatan. Terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim
kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Waktu tanam yang tidak serempak
dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi pemicu serangan OPT.
Merebaknya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan, seringkali
menyebabkan petani melakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida kimia.
Pestisida
kimia banyak digunakan karena mempunyai kelebihan dapat diaplikasikan dengan
mudah dan hasilnya dapat dirasakan dalam waktu yang relatif singkat serta dapat
diaplikasikan dalam areal yang luas. Namun dalam penggunaannya, petani
seringkali masih menyalahi aturan dengan menggunakan pestisida kimia dalam
dosis yang masih melebihi takaran dan bahkan mencampur beberapa jenis pestisida
kimia dengan alasan untuk meningkatkan daya racun pada hama dan penyakit
tanaman. Sehingga, dosis yang digunakan pun seolah tidak diperdulikan lagi
dengan asumsi agar OPT bisa dikendalikan.
Akibat
penggunaan pestisida yang tidak tepat atau berlebihan dapat mengakibatkan
keracunan bahkan kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan
setiap tahun terjadi sekitar 25 juta kasus keracunan pestisida kimia atau
sekitar 68.493 kasus setiap hari. Menurut Suparti, dkk, pestisida adalah racun
yang sangat berbahaya bagi manusia sehingga faktor keamanan pemakaian pestisida
perlu mendapat prioritas. Idealnya pestisida kimia dapat membunuh serangga
pembawa penyakit dan hama pada tanaman, tetapi tidak beracun bagi manusia dan
makhluk hidup lainnya yang bukan merupakan target. Akan tetapi kenyataannya
tidaklah demikian, pestisida merupakan bahan yang beracun sehingga sangat
berbahaya apabila tidak dikelola dengan baik dan benar terutama bagi petani
yang dalam kegiatannya langsung berhubungan dengan pestisida kimia.
Dalam konsep
pengendalian hama terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk
memberantas atau membunuh hama namun lebih dititikberatkan untuk mengendalikan
hama sehingga berada di bawah ambang kendali. Berikut cara menggunakan
pestisida yang baik dan benar. Cara menggunakan pestisida yang baik agar tidak
terjadi resistensi OPT terhadap pestisida adalah:
1.
Tepat jenis dan mutu
2.
Menggunakan pestisida
yang terdaftar/diijinkan
3.
Efektif terhadap jasad
sasaran, daya racun rendah, mudah terurai, selektif
4.
Wadahnya asli dan
masih baik, dengan memperhatikan label yang lengkap
5.
Masih berlaku/tidak
kadaluarsa
6.
Pestisida kontak/racun
kontak (lambung) tidak sesuai untuk hama yang berada dalam jaringan tanaman.
Untuk hama yang berada dalam jaringan tanaman (penggerek batang padi dapat
dikendalikan secara efektif menggunakan jenis insektisida sistemik).
7.
Tepat waktu,
ditentukan dengan memperhatikan:
Ambang pengendalian
yang berlaku. Menunda waktu aplikasi pestisida, sehingga apabila populasi hama
sangat tinggi akan kurang efektif, mahal, dan memicu kekebalan hama terhadap
pestisida. Musuh alami banyak yang mati, sehingga setelah residu pestisida
habis, larva yang baru menetas menjadi berkembang cepat tanpa musuh alami.
1.
Stadia pertumbuhan
tanaman yang diaplikasi
2.
Keadaan cuaca yang
memungkinkan. Tidak melakukan aplikasi pestisida pada saat banyak embun masih
menempel di tanaman (terlalu pagi, matahari belum terbit). Embun yang menempel
di daun akan mengencerkan konsentrasi pestisida yang diaplikasikan sehingga
menjadi tidak efektif dan menimbulkan kekebalan hama sasaran terhadap pestisida
yang diaplikasikan.
3.
Waktu yang tepat untuk
mengaplikasikan pestisida adalah ketika hama berada pada stadium rentan. Larva
ulat grayak diaplikasi pestisida ketika masih berada dalam stadium /instar 1-2
3.
Tepat dosis:
Jasad
pengganggu tanaman dapat dikendalikan secara baik dengan pestisida pada dosis
(konsentrasi dan jumlah volume cairan semprot) yang dianjurkan sesuai alat
aplikasi yang akan digunakan. Konsentrasi pestisida dinyatakan dalam volume
formulasi pestisida di dalam satu liter air. Tepat dosis, konsentrasi yang
tepat sangat berhubungan dengan dosis aplikasinya. Dosis aplikasi dinyatakan
dengan banyaknya bahan aktif pestisida yang digunakan pada areal seluas satuan
tertentu atau banyaknya cairan semprot per satuan luas tertentu. Dosis yang
kurang akan menyebabkan hama yang diaplikasi tidak mati, bahkan akan menjadi
kebal karena kemampuannya beradaptasi terhadap pestisida yang kurang efektif
tersebut.
4.
Tepat cara, hal yang
perlu diperhatikan diantaranya adalah:
5.
Menggunakan aplikasi
yang tepat sesuai bentuk dan jenis formulasi
6.
Memperhatikan
keberadaan/tempat jasad sasaran yang dituju
7.
Cuaca terutama arah
angin, agar keselamatan operator terjamin maka penyemprotan harus dilakukan
tidak berlawanan dengan arah angin.
8.
Penggunaan pestisida
harus tepat sasaran agar aman penggunaannya
9.
Keefektifan pestisida
terhadap jenis hama yang akan diaplikasi
- Gunakan pestisida
yang sesuai dengan hama sasaran. Tidak semua pestisida efektif untuk semua
Sumber: https://tanamanpangan.pertanian.go.id/detil-konten/iptek/16
https://pertanian.jogjakota.go.id/detail/index/15067#:~:text=Pestisida%20nabati%20merupakan%20senyawa%20kimia,maupun%20tumbuhan%20pengganggu%20(gulma).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar